Article Detail
Penerapan Budaya Unggah-ungguh Jawa
Masyarakat
Jawa ketika dalam berbicara, bersikap, maupun berperilaku selalu mengutamakan
kenyamanan orang-orang yang ada di sekitarnya. Maka muncul istilah Jawa “Karyenak
tyasing sasama” (membuat nyaman di hati sesamanya). Ucapan, sikap, perilaku
yang selalu menjaga kenyamanan orang lain ini kemudian dikenal dengan
unggah-ungguh (tata krama). Menurut
Endraswara (2009: 96) Unggah-ungguh tidak hanya melibatkan bahasa,
melainkan terkait dengan tata krama Jawa. Tentunya bagi masyarakat Jawa,
unggah-ungguh yang berkaitan dengan tata krama maupun unggah-ungguh yang
berkaitan dengan bahasa akan menentukan harga diri seseorang.
Berdasarkan
penjelasan tersebut seperti yang terkandung dalam unen-unen Jawa “Ajining dhiri
saka lathi, ajing raga saka busana, ajining awak saka tumindak”. Ajining dhiri saka lathi artinya seseorang
dihargai karena tutur kata yang sopan, jujur, dan tidak menyakiti orang lain, ajining
raga saka busana artinya kehormatan fisik (penampilan) seseorang
dinilai dari pakaiannya, kerapian, kesopanan, dan kesesuaian dalam berbusana,
dan ajining awak saka tumindak artinya nilai diri seseorang
tercermin dari perilakunya dalam keseharian.
Dari
uraian di atas dapat dikatakan bahwa unggah-ungguh adalah aturan tentang
bagaimana manusia menjalani kehidupan yang baik dari tutur kata, perilaku,
pakaian dan segala hal yang dilakukannya. Di era sekarang ini banyak sekali
orang Jawa maupun orang lain yang tinggal di Jawa dalam menjalani hidupnya
sudah mengalami pergeseran atau perubahan unggah-ungguh yang menjadi budaya
khas Yogyakarta. Hal tersebut disebabkan beberapa faktor, diantaranya kurangnya
proses pewarisan dari generasi sebelumnya, kurangnya pemahaman dan pengendalian
diri terhadap kemajuan teknologi, dan pengaruh dari unggah-ungguh yang berasal
dari budaya asing. Oleh karena itu perlu adanya pembiasaan budaya unggah-ungguh
sejak dini. Terkait dengan hal tersebut, SMA Stella Duce 1 Yogyakarta berusaha
menerapkan budaya unggah-ungguh Jawa dalam bentuk jurnal pembiasaan budaya
unggah-ungguh Jawa .
Adapun
manfaat penerapan budaya unggah-ungguh Jawa dalam bentuk jurnal pembiasaan ini
adalah sebagai berikut :
1. Pembentukan
karakter moral, yakni melatih
kedisiplinan dan kerendahan hati melalui penggunaan bahasa dan tindakan yang
disesuaikan dengan lawan bicara.
2. Pengembangan
empati, yakni membiasakan
diri untuk mendahulukan kepentingan orang lain, menjaga perasaan lawan bicara,
dan membangun rasa peduli dalam bermasyarakat.
3. Pencegahan
konflik, yakni menciptakan
lingkungan yang damai dan harmonis karena adanya rasa saling menghargai dan
menghindari kesalahpahaman dalam berkomunikasi.
4. Pelestarian
budaya, menjaga nilai
luhur warisan tradisi agar tidak tergerus oleh budaya asing dan modernisasi.
-
there are no comments yet